— Santan Ketumbar Jintan

Arti Jogja Buat Mereka

Peta Interpretatif  Rute Perjalanan 3 Narasumber, realisasi oleh Antariksa

Oleh Karina Roosvita I.

Sebut saja namanya Van. Ia migran India yang bekerja di Jogja sejak 1989. Setelah paham seluk beluk pertekstilan, tahun 1995 Van keluar dan mendirikan tokonya sendiri. Saat ini ia telah mempunyai 3 anak dan sedang mengurus perpindahan kewarganegaraan.

****

Pria berusia 58 tahun ini bernama Inu. Ia generasi ke-2 keturunan India yang tinggal di Indonesia. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tapi kondisi keuangan yang tidak membaik membawanya mengadu nasib ke Jogjakarta. Di sini akhirnya ia bisa bertahan, berhasil membuka toko tekstilnya sendiri dan membahagiakan orang tuanya.

****

Lain Eka, lain Inu, lain juga Ani. Remaja perempuan generasi  ke-3  keturunan India ini sempat 14 tahun sekolah di Jakarta dan 1,5 bulan keliling India. Tapi Ani kembali juga ke Jogja, tempat ia dilahirkan. Menurutnya kuliah di sini lebih bagus daripada di ibukota atau bahkan India.

****

Van, Inu dan Ani adalah 3 dari 70-an jiwa keturunan India yang tinggal di Yogyakarta. Mereka merasa Jogja adalah tanah tumpah darah mereka. Andaikata terjadi perang dengan Malaysia, Ani bahkan rela mengangkat senjata demi Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan besar. Mereka bertiga adalah warga keturunan India. Darah India mengalir deras dalam tubuh mereka. Hidung mereka panjang. Mata mereka menyorot tajam. Sekilas pandang pun langsung tampak jika mereka bukanlah orang Jawa. Tapi kenapa mereka memilih Jogja? Kenapa bukan Jakarta, Bandung atau kota besar lain seperti Surabaya? Ada apa dengan Jogja?

 

Karena Partisi Kami Kemari

Gelombang perpindahan penduduk dari India ke Indonesia kebanyakan di mulai  1940-an[1]. Saat itu sedang terjadi perang saudara di India bagian Utara yang berakibat berdirinya Pakistan menjadi negara tersendiri pada tahun 1947. Dengan segera, penduduk India yang tinggal di daerah tersebut terpaksa keluar dari rumahnya karena menolak bergabung dengan Pakistan.

Peta India Setelah Partisi

Setelah meninggalkan tanah kelahirannya, penduduk India ini tidak tahu mesti ke mana. Di India sendiri mereka sudah tidak mempunyai apa-apa. Jangankan rumah, tanah pun mereka tidak ada. Dengan ganti rugi yang didapat, sekitar 50.000 rupee/rumah, mereka mencoba mengadu nasib ke negara lain.

Setelah menempuh perjalanan 1 minggu menggunakan kapal barang, beberapa dari mereka tiba di Indonesia. Beberapa yang lain mendarat di Malaysia dan Singapura. Keberadaan mereka menyebar di sepanjang Sumatera dan Jawa. Bekal ganti rugi yang dibawa digunakan untuk mendirikan usaha. Kebanyakan membuka toko kain karena mereka memegang teguh filosofi Mahatma Gandhi. Di penjara, Gandhi merajut kainnya sendiri. Ini yang membuat orang India ahli dalam bidang tekstil daripada bidang lain.

Kehidupan di perantauan tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa dari mereka tidak berkembang. Namun ada juga yang sukses dan ingin melebarkan sayapnya. Pada masa 70an, mereka yang tidak beruntung dan yang ingin melakukan ekspansi berdatangan ke Jogja. Kedatangan mereka diikuti oleh gelombang pekerja India dari Medan dan Jakarta.

Dari Jogja ke India (atau Jakarta)

Bagi para pendatang India, keluarga sangat penting artinya[2]. Dalam satu rumah, sering kali menaungi dua sampai tiga kepala keluarga secara bersama-sama. Siapa yang dituakan, dialah yang dituakan. Sedangkan istri dari tetua tersebut menjadi kepala pengurus rumah tangganya. Walaupun keluarga sangat penting artinya, kebanyakan dari para orang tua India memilih untuk menyekolahkan anaknya keluar Jogja. Di Jakarta, terdapat sekolah internasional yang bernama Gandhi Memorial School. Di sekolah inilah kebanyakan keturunan India menuntut ilmu. Para orang tua menganggap, kebiasaan India yang diterapkan di rumah belum cukup untuk mengerti ‘India’[3]. Di sekolah ini para orang tua berharap anak-anaknya belajar budaya dan bahasa India. Hanya saja bagi beberapa orang tua, mempelajari bahasa Inggris lebih utama, sehingga mereka tidak fanatis dengan sekolah tertentu. Mereka mendaftarkan anak-anaknya menuju sekolah internasional lainnya, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Yang penting melancarkan bahasa Inggris, kata seorang narasumber.

Tidak semua orang tua menganggap Gandhi maupun sekolah internasional di ibukota berkualitas. Beberapa orang tua yang mempunyai pandangan lain langsung mengirim anak-anaknya ke India. Menurut para orang tua, di India anak-anak akan belajar India yang sesungguhnya. Mulai soal sejarah, budaya hingga politik. Para orang tua tidak ingin anak-anak mereka kehilangan asal usulnya. Namun karena sudah tidak memiliki keluarga, anak-anak ini tinggal di asrama. Para orang tua senang saja, sebab anak-anak akan belajar mandiri dan mengatur dirinya sendiri. Kemampuan manajerial dan kemandirian adalah kunci kesuksesan usaha para pendatang India ini.

Rentang waktu anak-anak pergi belajar ini cukup lama. Ada yang 4 tahun, tapi ada juga yang belasan tahun. Setelah itu mereka ‘ditarik’ pulang. Ada yang meneruskan kuliah, tapi ada juga yang langsung menjalankan usaha orang tua. Apapun alasannya, anak-anak itu pulang kembali ke Jogja.

Jogja Kota Yang Nyaman

Dengan menggunakan terminologi ‘pulang’, para pendatang India tersebut telah menganggap Jogja sebagai ‘rumah’. Hal ini bertentangan dengan salah satu teori mengenai diaspora yang dicetuskan oleh William Sofran (1991 via Leonard, Karen Isaksen, 2008)[4]. Ia mengungkapkan bahwa masyarakat yang yang telah tersebar dari tanah rumahnya (homeland), percaya bahwa mereka tidak diterima secara penuh oleh masyarakat tuan rumahnya, sehingga selalu membayangkan tanah kelahirannya sebagai ‘rumah’.

Bagi para keturunan India, Jogja adalah kota yang nyaman. Pendapat ini diamini oleh banyak pendatang India, baik yang tua maupun yang masih muda. Mereka merasa penduduk Jogja sangat ramah. Biarpun suhunya cukup panas, mereka merasa penduduk Jogja tidak mudah naik darah. Sebuah keramahan yang tidak bisa mereka lihat di India sekalipun.

Namun demikian ada bebeberapa pendapat yang berbeda dalam menyikapi hal ini. Pendatang India yang sering datang ke India menganggap keseriusan penduduk asli India adalah karena beban hidup yang lebih berat. Lingkungan India lebih susah dibanding Jogja, tanahnya lebih kering, penduduknya lebih padat, kemampuan negara kurang memberi kesejahteraan membuat penduduk asli India lebih sering cemberutnya dibanding tersenyum. Namun ada juga yang menganggap pendapat itu hanya karena sering melihat penduduk Jogja yang suka tersenyum, sehingga India terlihat lebih ‘serius’.

Faktor bahasa juga menjadi pendukung dalam pengkategorian Jogja sebagai kota yang nyaman. Beberapa pendatang India yang tiba pada tahun 70-an ini merupakan generasi ke-2 yang tinggal di Indonesia. Bahasa yang digunakan sudah bahasa Indonesia. Beberapa bahkan menggunakan bahasa Jawa untuk memudahkan komunikasi dengan pelanggan. Kalaupun mereka masih menggunakan bahasa India, sebatas untuk percakapan sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mulai melunturkan keterikatan para pendatang ini dengan India. India hanyalah tempat untuk berwisata menurut salah seorang dari mereka.

Penguasaan bahasa India yang terbata-bata juga menyumbangkan perasaan asing ketika pendatang India mengunjungi tanah nenek moyang. “India boleh saja tanah leluhur, tapi kami sudah warga negara Indonesia,” ungkap seorang warga lainnya.

Dengan berbagai macam alasan, mulai dari yang umum hingga yang personal, saat ini banyak dari para pendatang yang sudah mengucapkan sumpah untuk bergabung menjadi Warga Negara Indonesia. Mereka merasa Jogja adalah tempat tinggal mereka. Sedangkan India adalah tujuan wisata semata.

Tapi Kami Masih Didiskriminasi!

Para pendatang India di Jogja dikenai kewajiban yang sama oleh pemerintah. Mereka dikenai pajak yang jumlahnya tidak beda dengan penduduk asli. Mereka juga patuh untuk berpartisipasi dalam Pemilihan Umum ketika diwajibkan menyuarakan pendapatnya. Namun ada satu hal yang tidak mereka pahami. Para pendatang India ini merasa kesulitan ketika mengurus sertifikasi tanah tempat tinggal maupun tempat usaha mereka. Peraturan propinsi melarang warga keturunan India untuk membeli tanah secara milik. Yang mereka peroleh adalah sertifikat hak guna bangunan yang nilai tanahnya lebih rendah dibanding tanah bersertifikat hak milik. Mereka tidak tahu alasan pelarangan ini. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang tidak semestinya, apa lagi jika melihat pengusaha Chinese maupun Arab tidak dikenai pelarangan yang sama. Dan lagi peraturan ini hanya berlaku di Jogja, bukan di tempat lain. Hal ini menimbulkan tanda tanya yang besar untuk pendatang India tersebut.

Tapi Ani mempunyai pendapat yang berbeda. Ani melihat diskriminasi letaknya hanya di kepala saja. Diskriminasi itu tidak nyata, sehingga ia berpendapat manusia harus  mengosongkan kepalanya dari bayangan diskriminasi agar tidak merasa terdiskriminasi. Beberapa pemudi India lainnya mengamini pendapat Ani. Mereka merasa perlakuan yang mereka terima selama sekolah tidak pernah menunjukkan adanya diskriminasi.

Pendapat Ani tersebut tidak salah. Namun, pendapat mengenai diskriminasi yang dilontarkan oleh para pendatang India yang lebih senior tersebut harus juga dilihat sebagai masukan untuk Jogja. Bukankah Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin hak-hak tiap warga negaranya?

Akhirnya tulisan ini harus mengambil kesimpulannya, bahwa para pendatang India tersebut hanya meminta perlakuan yang sama seperti warga negara Indonesia yang lainnya. Mereka sudah menjadi warga negara Indonesia yang mempunyai kewajiban yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya. Sebagai konsekuensi logis mereka ingin hak-hak mereka didengar dan dipenuhi, agar keberadaan mereka di Jogja, tetap membawa mereka pada ‘rumah’ yang mereka bayangkan ketika mereka meninggalkan India dulu. Bukan rumah persinggahan sementara yang sewaktu-waktu bisa digusur atau dirobohkan.


[1] Cerita ini berdasarkan wawancara dengan salah satu narasumber yang mengalami sendiri peristiwa partisi. Ia tiba di Indonesia tahun 1950.

[2] Dalam Kuiper Kathleen (ed), Understanding India The Culture of India, Britannica Educational Publishing, New York, 2011, p.46.

[3] Hasil wawancara dengan salah satu narasumber, tanggal 24 Desember 2011.

[4] Leonard, Karen Isaksen, Hyderabadis Abroad: Memories of Home dalam R., Parvati, S., Ajaya Kumar, M., Brij, S., Dave (ed), Tracing An Indian Diaspora, Contexts, Memories, Representations, Sage Publications, India, 2008, p. 258.

0 comments
Submit comment