— Santan Ketumbar Jintan

Menguatkan Identitas di Ruang Budaya Lain: Usaha Reproduksi Budaya India di Yogyakarta

Oleh Asti Kurniawati

“India tidak perlu buka kantong budaya di Indonesia karena 90% budaya Indonesia sudah sama dengan India…”[1]

 Sebuah pernyataan yang menarik, di tengah rasa tidak tahu kita tentang budaya India yang ada di Indonesia. Jejak-jejak budaya India yang seakan-akan hanya terwakili oleh periode candi, memutus bayangan kita tentang keberlanjutan sejarah kedekatan budaya dua negeri Indonesia-India. Pernyataan selanjutnya:

 “…you bangun rumah di atas Drupadi, taruh pisang itu sama saja di India, you kawin di depannya you taruh pohon pisang, taruh janur, sama saja.”[2]

menggugah kita yang telah lupa bahwa banyak tradisi Hindu yang tidak beridentitas India lagi, tetapi telah beridentitas tradisi Jawa. Masyarakat Yogyakarta lebih mengenal India dari patung-patung dewa yang dihadirkan dalam ruang-ruang toko dan rumah. Ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, terkhusus Yogyakarta yang sebenarnya kental dengan tradisi Hindu, tidak lagi membangun garis memori tentang India. Benarkah demikian? Dan seberapa dekat kebudayaan ini dirasakan oleh komunitas India? Salah satu yang menjadi tolok ukur adalah bagaimana komunitas India meletakkan anak-anaknya di tengah masyarakat Yogyakarta; dan pendidikan merupakan salah satu cara orang tua meletakkan anak-anak itu.

Kecilnya komunitas India di Yogyakarta, yang disebut-sebut hanya 12-15 keluarga, tidak banyak yang memberikan perhatian untuk bahan penelitian. Toko-toko tekstil yang identik dengan etnis India, hanya menjadi bagian pengisi ruang-ruang kota, namun tidak pada sejarah kota.

Dari Gandhi Memorial School sampai India

“Karena satu, Bahasa Inggris, kedua karena komunitasnya disana.”[3]

Salah satu jawaban dari pertanyaan atas alasan mengirimkan anak ke Gandhi Memorial School di Jakarta. Bahasa Inggris merupakan bahasa paling penting bagi komunitas India. Hal ini ditangkap dari jawaban beberapa wawancara yang menyatakan Bahasa Inggris sebagai alasan penting dalam menentukan ke mana anak harus sekolah. International School menjadi orientasi utama. Sebelum pergi ke Gandhi Memorial School, rata-rata anak orang India di Yogyakarta dimasukkan ke sekolah-sekolah Kristen dan Katholik. Di usia sekolah SMP dan SMA, anak-anak baru dikirim ke Jakarta. Di usia itu pula, anak-anak ada yang dikirim sekolah ke India. Juga pada usia-usia kuliah. Mengapa harus ke India, bukan negara lain?

“Karena culture, biar tahu culture juga. Nomer satu untuk mengenal culture, dari segi budaya juga aman.”[4]

Pertemuan India-Indonesia yang jika dilihat jejaknya telah berabad-abad berjalan, tidak mampu menghadirkan India “yang sesungguhnya” bagi komunitas ini. Mendekat atau bahkan masuk ke India yang sesungguhnya adalah pilihan yang dijatuhkan untuk secara “benar” mempelajari budaya “miliknya”. Inilah yang menjadi alasan keluarga Bapak Made-Ibu Heera menyekolahkan anak-anak ke India, yang sebelumnya juga ke Gandi School di Jakarta. Yaitu menjaga culture. Budaya India menjadi ukuran nilai tertinggi yang harus dijaga dan diajarkan kepada anak-anak. Hal ini juga diperkuat oleh pemilik Toko Jayadewi yang menyatakan:

“…kebanyakan orang India masih mempertahankan budaya dan agama.”[5]

Kebudayaan dalam hal ini berfungsi seperti apa yang dikatakan Ben Anderson sebagai imagined values, yang berfungsi dalam fikiran setiap orang yang sebagai pendukung dan yang mempertahankan kebudayaan itu meskipun seseorang berada di luar lingkungan kebudayaannya. Sebuah proses pembentukan identitas yang mengacu kepada nilai-nilai kebudayaan asal.[6]

Bermain ke Toko Saja

Bagi orang tua, pendidikan untuk anak tidak sekedar mengirimkan anak ke sekolah saja. Lingkungan pergaulan dan lingkungan keluarga merupakan bagian pendidikan yang tidak kalah penting. Bermain yang merupakan dunia anak-anak seringkali membawa pengaruh yang lebih kuat daripada pengaruh keluarga. Oleh karena itu, keluarga India lebih memilih membawa anak-anak ke toko untuk bermain di toko setelah pulang sekolah. Dengan bermain ke toko, secara otomatis pendidikan untuk bekerja pun berlangsung, selain dengan mudah dapat mengontrol perkembangan anak. Dan hal terpenting sepertinya adalah menjaga culture.

“Aman dari budaya, dari iritasi kebudayaan yang lain.”[7]

Namun, ternyata hal ini dulunya hanya berlaku untuk anak laki-laki. Bagi anak-anak perempuan, mereka tidak diizinkan pergi ke toko, dan lebih disibukkan dengan urusan rumah, terutama belajar masak-memasak. Baru tahun 1980-an, ada anak-anak perempuan yang mulai dibawa ke toko oleh orang tuanya. Dari satu, dua, lima, hingga sekarang sudah biasa anak-anak perempuan pergi ke toko.

Anak laki-laki memang memiliki kebebasan yang lebih luas dalam bergaul. Bahkan ketika toko belum dimiliki, Made kecil juga bermain dengan anak-anak kampung.

“Kalau kita anak laki-laki main layangan di kampung, kalau yang perempuan-perempuan nggak.”[8]

Tidak banyak orang India yang secara khusus memberikan mainan asal India. Meskipun tetap ada yang membelikan anak-anak perempuan barby dari India yang memakai sari, namun secara umum orang tua tidak mengkhususkan mengenalkan India melalui mainan anak-anak.

Mainan anak-anak tidak mendapat perhatian orang-orang India sebagai media yang efektif untuk memelihara kultur mereka. Ataukah memang tidak ada mainan anak-anak di India yang khas? Seperti pernyataan Pak Tikani bahwa:

“Semua mainan tradisional India dan Indonesia sama. Kelereng, yoyo, engklek, congklak. Sekali lagi saya kasih tahu 90 % budaya sama. You generasi muda tidak tahu tapi generasi tua tahu. Dari India Selatan, raja Airlangga sampai ke Lombok semua sama, Lombok ke sana lain. Dia punya Hindu, culture, seni semua sama.”[9]

Penggunaan Bahasa India dalam interaksi di rumah, meskipun bercampur dengan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tampaknya masih menjadi media yang dinilai efektif. Cerita baik yang berupa buku bacaan maupun VCD juga dimanfaatkan sebagai media. Selain itu, India hadir dalam makanan, pernikahan, dan upacara-upacara keluarga yang lain.

Tidak Dekat Juga atau Tidak Dekat Lagi? (Akhir Sementara)

Mengapa harus ke India? Banyaknya keluarga India yang mengirimkan anak-anaknya ke India merupakan bukti bahwa kedekatan budaya India-Indonesia tidak mampu mewakili budaya asli India. Alasan kultur yang dikemukakan, ketika mengirim anak untuk belajar ke India juga menjadi bukti kuat bahwa menjadi India berbeda dengan menjadi Jawa.

Jika asimilasi adalah yang terjadi pada pertemuan Indonesia-India pada masa persebaran agama Hindu, sepertinya tidak demikian yang terjadi pada periode modern. Jawa dan India bukan sesuatu yang sama dalam budaya. Jawa yang ada adalah hasil dari asimilasi di masa lalu, sedangkan India yang dihadirkan komunitas India saat ini bukanlah hasil asimilasi itu melainkan India “asli”. Jadi pertemuan antara Indonesia-Jawa (terkhusus Yogyakarta) dengan India di abad XX dan XXI terjadi dalam pertemuan asimilasi masa lalu dengan India lagi. Dan garis diantara keduanya dibangun secara tegas. Tidak lagi terjadi asimilasi yang kedua, tetapi lebih sebagai akulturasi. Atau sebuah reproduksi kebudayaan India di Yogyakarta. Dan usaha mempertahankan reproduksi kebudayaan India itu melalui pendidikan anak-anak, sebagai penerus budaya.\

(Sumber gambar: 7 Secrets of Hindu Calendar Art, Devdutt Pattanaik, Westland India, 2009.)


[1] Wawancara dengan Bapak Tekani, Yogyakarta.

[2] Wawancara dengan Bapak Tekani Yogyakarta.

[3] Wawancara dengan Bapak Made, Yogyakarta.

[4] Wawancara dengan Bapak Made dan Ibu Heera, Yogyakarta.

[5] Wawancara dengan Pemilik Toko Jayadewi, Yogyakarta.

[6] Irwan Abdullah, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan (Yogyakarta: Pustakan Pelajar, 2006), hlm. 44.

[7]  Wawancara dengan Bapak Made, Yogyakarta.

[8] Wawancara dengan Bapak Made, Yogyakarta.

[9] Wawancara dengan Bapak Tekani, Yogyakarta.

0 comments
Submit comment