— Santan Ketumbar Jintan

Ringkasan Diskusi Sejarah Komunitas India di Yogyakarta, 21 Oktober 2011

Diskusi Sejarah Komunitas India di Yogyakarta, berlangsung pada hari Jumat, 21 Oktober 2011. Pembicara, Bambang Purwanto (Jurusan Sejarah, UGM) dan Jean Pascal Elbaz (Sangam Resto). Selain berbicara soal komunitas India dalam konteks kelompok minoritas dan historiografi di Indonesia, Bambang Purwanto juga melontarkan beberapa asumsi mengenai keterputusan sejarah yang terjadi dalam hubungan India dengan Indonesia. Sedangkan Jean Pascal Elbaz banyak berbicara soal kondisi komunitas India di Yogyakarta saat ini.

Beberapa poin penting dalam pemaparan tiap narasumber adalah sebagai berikut;
1. Keberadaan orang-orang India di Indonesia, dapat ditelusuri mulai dari Abad 5. Medan merupakan pusat komunitas India di Indonesia. Komposisi antara orang India dan orang Jawa di Medan, hampir sama. Keberadaan orang India di Medan, berasal dari buruh-buruh yang dibawa oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Komunitas India yang cukup besar, menyebabkan Medan tidak mengalami keterputusan sejarah yang panjang.

2. Salah satu arsip yang berasal dari tahun 1920-an atau 1930-an, menunjukkan hubungan dagang antara India dan Indonesia. Indonesia merupakan salah satu eksportir gula bagi India. Sedangkan India memasok tekstil ke Indonesia. Industri tekstil abad 20 di Indonesia, sangat terkait dengan India. Hubungan ekonomi ini terus berlangsung hingga saat ini. Tidak terjadi keterputusan secara ekonomi. Keterputusan terjadi dalam memori sosial. Apalagi dengan historiografi yang kacau. Jadi, secara realitas sosial, komunitas India di Indonesia terus menerus berkembang. Keterputusan justru terjadi pada penulisan sejarahnya. Di luar soal historiografi, perkembangan hubungan antara komunitas India dengan lokal, yang awalnya banyak bersifat kultural, lambat laun mulai bergeser ke arah sektor ekonomi.

3. Ada beberapa asumsi mengenai penyebab keterputusan historis ini. Salah satunya adalah mengenai hegemoni Islam Sunni, yang menyingkirkan Islam Syiah dan akhirnya menyingkirkan realitas sejarah India di Indonesia. Islam Sunni disebut berasal dari Arab, sedangkan Islam Syiah berasal dari Persia dan banyak berkembang di India.

4. Asumsi lain adalah mengenai posisi komunitas India yang tidak banyak mengalami gesekan dengan lokal, di konteks ekonomi. Orang-orang India cenderung mengambil posisi ekonomi yang aman, seperti menjadi penjual kain misalnya. Sedangkan posisi ekonomi yang riskan, lebih banyak dikuasai oleh komunitas Tionghoa dan Arab. Pada masa kolonial, Tionghoa dan Cina berlomba menjadi peminjam uang (memberikan pinjaman uang) nomor satu di Hindia Belanda. Padahal di negara lain, peminjam uang paling terkenal berasal dari komunitas India. Apakah pemisahan kekuatan ekonomi ini sengaja dilakukan oleh VOC? Pemisahan sektor usaha tampaknya juga terjadi antara komunitas India muslim dan hindu. Tekstil banyak dikuasai oleh India Hindu. Apakah pemisahan ini juga disengaja?

5. Komunitas India di Yogyakarta sendiri, cukup kecil. Hanya sekitar 12 Kepala Keluarga, seingat Bapak Hottu Tikani. Salah satu toko kain yang didirikan oleh generasi pertama pendatang dari India berada di Malioboro. Para pendatang asal India ini mulai memiliki kewarganegaraan Indonesia sejak tahun 1975. Sebelumnya, polisi selalu datang ke tempat usaha mereka dan meminta uang, karena mereka warga asing.

6. Komunitas India di Yogyakarta, cukup tertutup. Tidak banyak dari mereka yang melakukan pernikahan campur dengan lokal. Pernikahan lebih banyak dilakukan dengan perjodohan yang terencana dan mendatangkan pasangan dari negara India. Hal ini tidak terjadi di komunitas India Medan, karena kebanyakan dari mereka tidak mampu mendatangkan pasangan dari negara India. Mereka lebih memilih menikah dengan warga lokal karena membuka kemungkinan mobilitas sosial dan kepemilikan tanah.

7. Dominasi Islam Sunni juga salah satu faktor yang memutus hubungan komunitas India Muslim dengan warga lokal. Hal ini juga terjadi pada komunitas India Hindu yang cukup berbeda dengan Hindu versi Indonesia. Komunitas India, baik Hindu maupun Muslim, memiliki tempat peribadatan sendiri. Di Yogyakarta sendiri, terdapat dua kuil tempat peribadatan komunitas India Hindu. Satu berada di bagian atas suatu toko material, sedangkan yang satu berada di rumah pribadi salah seorang warga keturunan India.

Diskusi ditutup dengan pertanyaan mengenai metode pendekatan sejarah yang sesuai dengan konteks komunitas India di Yogyakarta dan keterputusan historis di dalamnya. Menurut Bambang Purwanto, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan sejarah komunitas. Menulis sejarah dengan memanfaatkan materi-materi yang ada dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Download file audio lewat link ini.

0 comments
Submit comment