— Santan Ketumbar Jintan

Workshop 2: Pendekatan Sejarah Komunitas


Workshop 2: Pendekatan Sejarah Komunitas
Peserta: Anang, Maryanto, Moki, Sandy, Mamad, Anna, Citra, Fitta, Vita, Elia, Astrid, Gede, Pascal, Ferdi, Dina, Siska, Abmi, Inggrid, Khatib
Fasilitator: Antariksa

Pada workshop kedua ini, Antariksa membicarakan soal pendekatan sejarah komunitas berdasarkan proyek-proyek serupa yang pernah dikerjakan oleh Kunci. Proyek-proyek tersebut adalah Sejarah Keluarga, Sejarah Juminahan, dan Proyek Gondomanan.

Pendekatan sejarah komunitas merupakan sebuah metode sejarah yang dioperasikan pada orang biasa. Konsep historian generated history, dalam Sejarah Komunitas, berubah menjadi people generated history. Sejarah yang biasanya diwarnai dengan narasi besar mengenai peristiwa penting dan orang berkuasa, berpindah pada narasi orang biasa dan kejadian di sekitar mereka. Suatu komunitas dapat memahami perubahan karakter yang dialami melalui proses mengingat dan menuliskan sejarah lokal. Dalam proyek Juminahan, pembahasan sejarah lokal menimbulkan kepercayaan diri di antara anggota masyarakat Juminahan. Bahwa Juminahan merupakan komunitas yang penting.

Fungsi proyek berbasis sejarah komunitas dapat dibagi menjadi dua peran. Fungsi pertama, proyek ini dapat berperan menjadi fasilitator yang menyediakan media dan prasarana penulisan sejarah bagi komunitas tersebut. Fungsi kedua, proyek ini dapat berperan sebagai mitra dan bersama-sama dengan anggota komunitas untuk menuliskan sejarah lokal. Sejarah merupakan suatu hal yang relevan dan terbuka untuk keterlibatan semua orang.

Salah satu referensi penting ketika menjalankan proyek Juminahan adalah buku Alessandro Portelli yang berjudul The Death of Luigi Trastulli and Other Stories. Dalam buku ini, sejarah bukanlah mengenai pencarian kebenaran, melainkan mengumpulkan berbagai versi kebenaran.

Tidak ada metodologi tertentu dalam menjalankan sejarah komunitas. Namun beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mengoperasikan sejarah komunitas, adalah sebagai berikut;
1. Penting untuk menekankan bahwa sejarah merupakan hal yang menarik. Dan semua orang bisa terlibat dalam proses.
2. Kumpulkan narasi dan tema yang sebanyak mungkin, terutama yang memiliki relevansi untuk komunitas tersebut.
3. Setelah proses pengumpulan, hal yang selanjutnya perlu dipikirkan adalah presentasi data-data tersebut. Di mana data akan dipresentasikan? Bagaimana agar data bermanfaat bagi komunitas tersebut?

Langkah-langkah tersebut merupakan metode sejarah komunitas dengan proses yang cukup lama. Sejarah Juminahan dijalankan selama 2 tahun. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana metode ini disesuaikan dengan proyek riset sejarah komunitas India yang hanya berlangsung selama 1,5 bulan? Salah satu strategi yang sempat terpikirkan adalah pemetaan narasi. Dalam jangka waktu yang sempit, proyek ini dapat dioperasikan untuk mengumpulkan dan memetakan narasi sebanyak mungkin dari komunitas India di Yogyakarta. Pemetaan dapat dilakukan secara geografis maupun silsilah. Tantangan dalam proyek ini, selain waktu yang sempit, adalah hubungan yang berjarak antara partisipan proyek dengan komunitas India.

0 comments
Submit comment